Sabtu, 14 Juli 2018 04:00 WITA

Sains: Durasi Tidur yang Efektif dan Rahasia di Balik Salat Tahajud

Editor: Abu Asyraf
Sains: Durasi Tidur yang Efektif dan Rahasia di Balik Salat Tahajud
ILUSTRASI

RAKYATKU.COM - Banyak orang yang menganggap bahwa katu tidur ideal minimal enam jam setiap hari. Ternyata hasil penelitian menunjukkan, waktu tidur yang efektif hanya tiga jam.

Sepertiga malam terakhir lebih bermanfaat jika diisi dengan salat tahajud bagi umat muslim dibandingkan dengan tidur. Salat tahajud terbukti memperbaiki kesehatan fisik dan psikis seseorang.

Pada saat seseorang menggelar sajadah untuk menunaikan salat tahajud, ia berada dalam kondisi layaknya orang yang melakukan meditasi dan relaksasi.

Salat sunah yang ditunaikan di keheningan malam itu, mengantarkan orang yang menunaikannya menjadi lebih dekat dengan Allah. Hati yang dekat dengan Tuhannya adalah hati yang damai.

Orang yang rindu tahajud adalah orang yang mempunyai kadar keikhlasan lebih. Ia
rela untuk menghentikan kelelapan tidurnya dan bersimpuh pada Khaliknya. Alquran
memuji mereka dengan menyebutnya sebagai orang-orang yang menjauhkan
lambungnya dari tempat peraduannya.

Tahajud diketahui sebagai ibadah yang ditunaikan pada malam hari, saat setiap orang
mengistirahatkan tubuhnya dari kelelahan aktivitas di siang hari. Banyak kalangan
menyatakan bahwa idealnya masa tidur di malam hari adalah enam hingga delapan
jam. Tidur di malam hari akan memberikan energi baru bagi seseorang untuk
melakukan aktivitasnya di pagi hingga siang hari.

Namun kemudian muncul sebuah pendapat lain dari seorang ilmuwan bernama Ray
Meddis. Ia menyatakan bahwa masa tidur yang sempurna hanyalah tiga hingga
empat jam. Seseorang akan mengalami deep sleep sekitar tiga hingga empat jam
saja. Tentu seorang Muslim mampu memanfaatkan sisa masa tidur itu untuk memadu
cinta dengan Tuhannya, melalui salat tahajud.

"Bangunlah untuk sembahyang di malam hari kecuali sedikit daripadanya. Yaitu
seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit atau lebih dari seperdua itu.
Dan bacalah Alquran dengan perlahan-lahan". (QS. Al-Muzammil: 2-4). 

Seorang ilmuwan Muslim asal Mesir, Fadhlalla Haeri menyatakan bahwa ayat tersebut
memberikan panduan bagi Muslim untuk mencapai keseimbangan. Di sisa masa
istirahatnya, tiga jam masa efektif tidur malam, maka ia pun mestinya bangun untuk
menjalankan aktivitas yang bermanfaat. Dan bangun di waktu malam itu adalah salah
satu aktivitas yang memberikan manfaat. 

Berikut tiga rahasia sains di balik salat tahajud:

Sebagai Relaksasi

Pada saat manusia bangun pada dini hari, energi di dalam tubuh seseorang berada
dalam kondisi rendah. Selain itu, medan refleksi juga begitu bersih. Dalam tradisi
India, kondisi seperti itu disebut sebagai tahap pembentukan kesadaran, yang terjadi
pada titik energi ketujuh atau cakra mahkota. Dampaknya, akan meningkatkan intuisi
seseorang dan kesadaran diri untuk mampu mengendalikan emosi negatif.

Menurut Haeri, pada saat seseorang menggelar sajadah untuk menunaikan salat
tahajud, ia berada dalam kondisi layaknya orang melakukan meditasi dan relaksasi
atas kelenjar pineal. 

Ini akan menspiritualkan intelektual seseorang disertai dengan kemampuan personal untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah serta menjalin hubungan yang harmonis dengan sesamanya.

Puncak Produksi Hormon Melatonin

Tak hanya itu, pada saat matahari terbenam, kelenjar pineal mulai bekerja dan
memproduksi hormon melatonin dalam jumlah besar dan mencapai puncaknya pada
pukul 02.00 hingga 03.00 dini hari. 

Hormon inilah yang kemudian menghasilkan turunan asam amino trytophan dalam jumlah besar pula. Dan tahajud menjadi sarana untuk mempertahankan melatonin dalam jumlah yang stabil.

Selanjutnya melatonin ini akan membentuk sistem kekebalan dalam tubuh dan
membatasi gerak pemicu tumor seperti estrogen. Haeri mengungkapkan bahwa pada
masa kanak-kanak melatonin yang ada di dalam tubuh berjumlah 120 picogram
namun kemudian jumlahnya semakin menurun pada saat seseorang berusia 20-30
tahun.

Selain secara alami berkurang, jumlah melatonin berkurang akibat adanya pengaruh
eksternal. Di antara penyebabnya adalah tidur larut karena begadang, medan
elektromagnetik, serta polutan kimia seperti pestisida yang pada akhirnya
menyebabkan penyakit tekanan darah tinggi dan sakit kepala. Pada suatu titik,
bahkan akan menyebabkan turunnya sistem kekebalan tubuh.

Kafein yang terkandung di dalam kopi, teh hitam, dan soda tertentu juga akan
menyebabkan kemampuan antioksidan melatonin berkurang, yang akan
membahayakan sel-sel tubuh pada saat seseorang terjaga. 

Dengan demikian, kata Haeri, yang harus menjadi perhatian adalah bukan kuantitas tidur seseorang untuk memberikan kebugaran pada tubuh, tapi justru kualitas tidur. Tiga jam adalah waktu yang cukup untuk itu.

Mengundang Oksigen

Tahajud tak hanya memberikan pengaruh pada kondisi melatonin. Gerakan ibadah di
sepertiga malam terakhir ini juga memberikan pengaruh tertentu pada tubuh. Paling
tidak, pada saat berdiri tegak dan mengangkat takbir secara tidak langsung akan
membuat rongga toraks dalam paru-paru membesar. Ini akan menyebabkan banyak
oksigen yang masuk ke dalamnya.

Ada kesegaran yang dirasakan ketika seseorang dapat menghirup udara segar ke
dalam paru-parunya di keheningan malam itu. Pada saat sujud, seluruh berat dan
daya badan dipindahkan sepenuhnya pada otot tangan, kaki, dada, perut, leher, dan
jari kaki. Proses ini berulang-ulang sehingga berapa rakaat kita mengerjakan tahajud.

Setelah oksigen masuk ke dalam paru-paru ia akan diedarkan ke seluruh tubuh
dengan lancar karena adanya pergerakan otot selama rukuk dan sujud. Selain itu,
dalam salat seseorang juga melakukan gerakan duduk di antara dua sujud dan
tasyahud yang menyebabkan adanya gerakan tumit, pangkal paha, jari tangan, jari-jari kaki, dan lain-lain. Ini juga akan menyebabkan lancarnya peredaran oksigen.