Kamis, 12 Juli 2018 21:15 WITA

Terduga Teroris yang Diamankan Usai Salat di Yogyakarta Ternyata Pembuat Panah

Editor: Nur Hidayat Said
Terduga Teroris yang Diamankan Usai Salat di Yogyakarta Ternyata Pembuat Panah
(Foto: Sigit Pamungkas/Reuters)

RAKYATKU.COM, YOGYAKARTA - Seorang terduga teroris ditangkap usai salat asar di Masjid Al Falah, Kerto, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, Rabu (11/7/2018).

Meski jarang bergaul dengan lingkungan sekitar, terduga teroris bernama Gutomo itu dikenal rajin salat berjemaah di masjid tersebut. Belakangan diketahui, pria berjenggot ini berprofesi sebagai pembuat panah.

Rohadi, salah satu tetangga Gutomo, menceritakan penangkapan tersebut terjadi sesaat setelah Gutomo keluar dari masjid.

Warga yang rumahnya berada hanya bebrapa meter dari masjid itu mengungkapkan bahwa Gutomo keluar dari masjid hendak pulang mengendarai sepeda motor. Namun, kemudian diadang sejumlah polisi membawa senapan.

Kepala terduga teroris berambut panjang sebahu itu lalu ditutup menggunakan kain dan dibawa ke mobil polisi. Proses penangkapan menurutnya berlangsung cepat.

"Saya kira polisi mengejar buronan maling atau apa, saat saya lihat ternyata kok orang itu (Gutomo) yang ditangkap," kata Rohadi, seperti diberitakan Viva, Kamis (12/7/2018).

Rohadi menjelaskan Gutomo setiap salat jemaah di masjid tersebut jarang sekali absen. Bahkan terduga teroris ini sering membawa kedua anaknya yang masih usia sekolah dasar ikut berjemaah.

Meski begitu, Rohadi menyebutnya jarang menyapa tetangga atau orang di sekitar masjid atau jemaah yang lain. Bahkan di lingkungannya pria yang sempat memperkenalkan diri berasal dari Karangkajen Yogya itu jarang bergaul. Seusai salat biasanya jemaah bersalaman, namun Gutomo yang selalu menggunakan celana cingkrang itu tidak demikian.

"Ya kalau ada yang ngajak salaman dia baru salaman, itu saja tidak melihat orang yang ngajak salaman," ungkapnya.

Gutomo tinggal di RT 09, RW 08, Kerto Tengah, Pleret, Bantul sejak tiga tahun yang lalu. Rumah kontrakan yang berada sedikit tersembunyi di tengah permukiman warga ditinggali Gutomo bersama dua anak dan istrinya bernama Tri Mulyani.

Sang istri selama ini diketahui bekerja sebagai seorang penjahit. Ibu RW 08 Dusun Kerto Tengah, Nur Habibah mengatakan Gutomo setiap harinya bekerja sebagai pembuat panah. Namun panah buatan Gutomo dijual secara online dan tidak dipasarkan di sekitar tempat tinggalnya. Saat penggerebekan itu, sejumlah busur, anak panah, dan peralatan untuk memproduksi panah juga dibawa polisi.

"Satu gepok anak panah dibawa polisi," katanya.

Nur membenarkan bahwa Gutomo mengontrak sebuah rumah di dusun tersebut. Rumah berukuran sekitar 4x6 meter itu belum diplester dan berada disamping gang kampung. Nur tak menyangka Gutomo bakal ditangkap. Dia tidak mengetahui terduga teroris tersebut dibawa ke mana oleh polisi.

"Tidak tahu dibawa ke mana. Cuma pas dibawa itu (Gutomo) kepalanya ditutup tapi tangannya tidak diborgol," ujarnya.