Kamis, 12 Juli 2018 19:08 WITA

Opini: Transfer Caleg

Editor: Mulyadi Abdillah
Opini: Transfer Caleg
Nurmal Idrus

TADI siang, saya bertemu dengan seorang ketua parpol di salah satu kabupaten. Hal yang membuat saya tersentak adalah strategi barunya jelang Pemilu 2019. 

Transfer Caleg di Pasar Caleg. Ya, meminjam istilah dalam jual beli pemain di dunia olahraga seperti sepakbola, politik Indonesia kini juga mengenal bajak membajak figur itu. Menurut sang ketua, ia telah menawari beberapa figur populer di daerahnya untuk dipasang menjadi caleg di partai yang dipimpinnya dengan imbalan setengah dana kampanyenya ditanggung partai baru. 

Figur populer, incumbent dan bermodal besar menjadi sasaran pasar caleg ini. Untuk figur populer dan incumbent, tawaran dana kampanye menjadi godaan ampuh. Sementara untuk figur berkantong tebal ditawari nomor urut kecil. Dari semua itu, yang paling "sadis" adalah transfer caleg.

Seorang kader parpol yang sudah setengah mati dibina parpol lama, berpindah ke parpol baru dengan iming-iming dana kampanye. 

Tingginya Parlementary Threshold yang secara nasional dimana parpol harus mencapai raihan minimal 4 persen suara dari total suara sah dan belum pastinya apakah PT akan berlaku hingga ke level daerah, membuat parpol memilih jalan pintas. Membajak figur dari parpol lain demi menggaet lebih banyak suara rakyat. 

Tak bisa dipungkiri inilah pragmatisme politik Indonesia yang bakal menjadi bom waktu demokrasi kita. Gelembung balon pragmatisme itu akan meledak suatu saat menjadi racun pembunuh sendi demokrasi yang telah kita bangun susah payah. 

Hukum ekonomi pasar berlaku dimana modal yang dikeluarkan harus kembali dan kemudian setelah itu mencari untung.

Penulis: Nurmal Idrus
(Direktur Nurani Strategic)