Kamis, 12 Juli 2018 13:15 WITA

Perkakas Batu Berusia 2,1 Juta Tahun Ditemukan di China

Editor: Suriawati
Perkakas Batu Berusia 2,1 Juta Tahun Ditemukan di China
Para ilmuwan menemukan alat-alat di sebuah situs di Loess Plateau di China. (Foto: AP)

RAKYATKU.COM - Para peneliti telah menemukan artefak berupa perkakas batu kasar di China. Temuan ini diyakini menunjukkan bahwa nenek moyang manusia berada di Asia 2,1 juta tahun lalu, lebih 200.000 tahun lebih awal dari perkiraan sebelumnya.

Jika penanggalan itu benar, maka itu menyajikan bukti baru bahwa hominins (kelompok manusia dan spesies nenek moyang kita yang telah punah) meninggalkan Afrika lebih awal dari yang diperkirakan arkeolog sejauh ini.

"Penemuan kami berarti bahwa sekarang perlu untuk mempertimbangkan kembali kapan manusia purba meninggalkan Afrika," kata rekan penulis studi Robin Dennell dari Exeter University di Inggris.

Hominins diyakini telah muncul di Afrika lebih dari 6 juta tahun yang lalu. Mereka meninggalkan benua itu dalam beberapa gelombang migrasi mulai sekitar 2 juta tahun yang lalu. Para migran pertama kemungkinan adalah anggota spesies Homo erectus (manusia tegak) atau Homo ergaster (lelaki pekerja), Homo sapiens (orang bijak).

Sebelumnya, bukti tertua untuk hominins di Asia berasal dari Georgia dalam bentuk potongan kerangka fosil dan artefak tertanggal antara 1,77 juta dan 1,85 juta tahun yang lalu.

Namun peneliti yang terlibat dalam penggalian baru-baru ini mengatakan bahwa ada klaim lain yang belum terbukti, bahkan penemuan fosil yang lebih tua.

"Makalah ini menawarkan bukti kuat untuk kehadiran hominin di Asia lebih jauh dari yang kita duga," kata Dennell. Mungkin ada bukti yang lebih tua di tempat-tempat seperti India dan Pakistan, tetapi sejauh ini ... bukti tidak cukup kuat untuk meyakinkan sebagian besar komunitas penelitian," katanya.

"Dengan jenis klaim ini, untuk kehadiran manusia awal di suatu wilayah, bukti harus benar-benar kedap air dan tahan terhadap bom."

Temuan terbaru dari 96 alat-alat batu ini diekstrak dari 17 lapisan sedimen di dataran tinggi Loess China selatan.

Dennell dan tim menggunakan bidang sains yang dikenal sebagai “palaeomagnetism” untuk menandai lapisan sedimen. Ini terbentuk ketika debu atau lumpur mengendap sebelum ditutup oleh lapisan tanah baru lainnya. Setiap artefak yang ditemukan dalam lapisan akan memiliki usia yang sama dengan tanah di sekitarnya. Dennell dan tim mengukur sifat magnetik mineral di lapisan tanah untuk menentukan kapan mereka diendapkan.

Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Nature.