Kamis, 12 Juli 2018 10:53 WITA

Penyalahgunaan Narkoba di Sulsel Masih 133.503 Orang

Editor: Aswad Syam
Penyalahgunaan Narkoba di Sulsel Masih 133.503 Orang
Kepala BNNP Sulawesi Selatan, Brigjen Pol Mardi Rukmianto?

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sulsel memperingati puncak Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) di GOR Balai Rehabilitasi BNN Baddoka, Kamis (12/7/2018).

Dalam peringatan puncak HANI tersebut, turut hadir Penjabat Gubernur Sulsel Soni Sumarsono dan Ketua DPRD Sulsel HM Roem.

Kepala BNNP Sulawesi Selatan, Brigjen Pol Mardi Rukmianto dalam sambutannya menyampaikan data tentang angka prevalensi penyalahgunaan narkoba di Sulsel, yang mengalami penurunan mulai dari 2015-2017.

Katanya, angka penyalahgunaan  narkoba di Sulsel pada mulai dari 2015 sampai 2017, mengalami penurunan.

Hal tersebut berdasarkan hasil survei nasional tentang penyalahgunaan narkoba di 34 provinsi, yang dilaksanakan oleh BNN bekerjasama dengan Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia.

"Pada tahun 2015 Provinsi Sulsel menempati posisi 9 diperoleh angka prevalensi penyalahgunaan narkoba sebesar 2,27 persen atau sebanyak 138.937 orang. Dan survei pada tahun 2017, Sulsel mengalami penurunan menjadi posisi 7 dengan angka prevalensi 1.95 persen atau sebanyak 133.503 orang," katanya.

"Selain itu terdapat 30-40 orang meninggal sia-sia setiap harinya akibat penyalahgunaan narkoba," sebutnya. 

Sementara, data kasus penegakan hukum narkoba Polda Sulsel dan BNN pada 2016 ditemukan sebanyak 1.613 kasus,  sedangkan pada 2017 mengalami penurunan sebanyak 1.442 kasus.

"Sementara dari jumlah bandar dan pengedar pada 2016, sebanyak 12.423 orang. Tahun 2017, mengalami peningkatan sebanyak 19.514 orang. Kemudian dari jumlah pengguna pada 2016 sebanyak 15.869 orang dan pada 2017 mengalami kenaikan 21.961 orang," tuturnya.

Kepala BNNP Sulsel Brigjen Pol Mardi Rukmianto mengatakan, peringatan HANI memiliki makna akan keprihatinan terhadap penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika dan prekursor Narkotika. Sehingga, dibutuhkan sebuah gerakan untuk menyadarkan seluruh umat manusia di dunia ini, untuk membangun solidaritas dalam rangka mencegah dan memberantss narkoba yang menjadi ancaman bangsa.

"Penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba, merupakan kejahatan luar biasa atau extraordinary crime yang mengancam dunia, dan bisa digunakan sebagai salah satu proxy war untuk melumpuhkan kekuatan bangsa, untuk itu mari kita bersatu melawan narkoba," tutupnya.