Selasa, 10 Juli 2018 16:41 WITA

Dua Wartawan Reuters Diadili Setelah Meliput Pembantaian Rohingya

Editor: Suriawati
Dua Wartawan Reuters Diadili Setelah Meliput Pembantaian Rohingya
Wa Lone, berbicara kepada wartawan saat polisi mengawalnya dari gedung pengadilan setelah sidang praperadilannya di Yongon pada hari Senin. (Getty Images)

RAKYATKU.COM - Dua wartawan Reuters akan diadili di Myanmar karena melaporkan pembantaian anggota minoritas Muslim Rohingya di negara itu. Pada hari Senin (09/07/2018), pengadilan di Yangon telah memutuskan bahwa kasus kontroversial yang melibatkan Wa Lone, 32 tahun, dan Kyaw Soe Oo, 28 tahun, dapat dilanjutkan.

Kedua pria ini dianggap melanggar Undang-Undang Rahasia Resmi, sebuah undang-undang yang diterapkan ketika Myanmar masih dikenal sebagai Burma di bawah kekuasaan kolonial Inggris. Jika terbukti bersalah, terdakwa bisa menghadapi hukuman hingga 14 tahun penjara.

Kedua wartawan Reuters tersebut telah menyelidiki tuduhan kekejaman terhadap Rohingya, termasuk pembantaian 10 September terhadap 10 pria Rohingya. Mereka ditangkap akhir tahun lalu, dan jaksa mengatakan bahwa para wartawan secara ilegal memperoleh dokumen rahasia pemerintah dalam proses pelaporan mereka.

Namun penangkapan itu tidak membatalkan cerita mereka, yang akhirnya dipublikasikan oleh Reuters sebagai laporan khusus pada bulan Februari.

Dua Wartawan Reuters Diadili Setelah Meliput Pembantaian RohingyaTidak seperti kebanyakan cerita tentang krisis Rohingya, laporan ini terfokus pada wawancara dengan penduduk desa Buddha setempat dan tentara Myanmar yang mengklaim telah terlibat dalam pembunuhan dan penggalian kuburan.

Laporan itu juga memuat pernyataan militer Myanmar yang mengakui bahwa pembunuhan itu terjadi, dan Reuters mempublikasikan gambar 10 mayat berlumuran darah yang tertimbun ke dalam satu kuburan dangkal.

Di antara rincian brutal dalam laporan Reuters adalah insiden yang dijelaskan oleh Soe Chay, seorang pensiunan prajurit dan penduduk desa Buddha lokal yang ikut menggali kuburan korban.

Soe Chay mengaku diberitahu bahwa ia diperintahkan untuk melakukan apa pun yang ingin mereka lakukan pada korban. Tentara kemudian memerintahkan salah satu tahanan Rohingya untuk berdiri, "Aku mulai menusuknya dengan pedang, dan seorang prajurit menembaknya ketika dia jatuh," demikian kutipan Soe Chay yang diterbitkan Reuters.

Para wartawan dipenjara ketika laporan mereka akhirnya diterbitkan. Dan mereka tetap berada di balik jeruji, ketika kelompok-kelompok advokasi internasional untuk kebebasan berbicara dan jurnalisme, memuji karya mereka dengan beberapa penghargaan, dan mengecam pemerintah Myanmar.

Para pengamat di luar perbatasan Myanmar telah mengutuk kasus dua wartawan itu sebagai upaya terselubung untuk menekan kebebasan pers di negara itu, yang telah dirusak oleh tindakan keras pemerintah terhadap Rohingya.

"Para wartawan Reuters ini melakukan pekerjaan mereka dengan cara yang independen dan tidak memihak, dan tidak ada fakta atau bukti yang menunjukkan bahwa mereka telah melakukan kesalahan atau melanggar hukum. Mereka harus dibebaskan dan dipersatukan kembali dengan keluarga, teman, dan kolega mereka," kata Pemimpin Redaksi Reuters, Stephen Adler, dalam sebuah pernyataan yang dirilis Senin.

Sementara itu Pemimpin defacto Myanmar, Aung San Suu Kyi, yang merupakan peraih Nobel Perdamaian, membela kasus itu dengan alasan itu tidak relevan dengan liputan wartawan tentang "masalah Rakhine."

"Mereka ditangkap karena melanggar Undang-undang Rahasia Resmi," kata Suu Kyi kepada NHK Jrpan bulan lalu. Pemimpin tersebut telah mendapat kritik keras karena diamnya, ketika militer Myanmar melakukan apa yang secara luas digambarkan sebagai pembersihan etnis terhadap Rohingya.

Sejak Agustus lalu, lebih dari 700.000 anggota minoritas Muslim melarikan diri ke Bangladesh setelah militer Myanmar meluncurkan pembalasan, meyusul adanya serangan di beberapa pos polisi dan militer.

Sumber: npr.org