Kamis, 05 Juli 2018 04:30 WITA

Ini Pernyataan Mengejutkan TGB Soal Dukungannya ke Jokowi di Pilpres 2019

Editor: Abu Asyraf
Ini Pernyataan Mengejutkan TGB Soal Dukungannya ke Jokowi di Pilpres 2019
TGB Muhammad Zainul Majdi

RAKYATKU.COM - Gubernur Nusa Tenggara Barat, Tuan Guru Bajang (TGB) Zainul Majdi sudah kepalang basah. Dia mengaku siap menerima risiko atas sikapnya mendukung Presiden Joko Widodo pada Pilpres 2019. 

Sikap itu bertentangan dengan Partai Demokrat yang sejauh ini belum memutuskan dukungannya. Partai yang dipimpin Susilo Bambang Yudhoyono itu masih berusaha membentuk poros ketiga. Ada beberapa nama yang digadang-gadang, antara lain JK-AHY, Prabowo-AHY, atau Anies-AHY.

Zainul Majdi menegaskan dukungannya ke Jokowi adalah sikap politik pribadinya. Untuk itu, TGB yang juga kader Partai Demokrat menolak untuk dikaitkan dengan sikap partai pimpinan Susilo Bambang Yudhoyono tersebut. Meski Partai Demokrat hingga kini belum menyatakan dukungan kepada calon tertentu.

"Partai Demokrat kan belum ada sikap apapun. Jadi saya merasa, ya hak saya untuk memberikan dukungan. Sebagai pribadi, dukungan kepada Bapak Jokowi karena partai belum ada sikap apapun," lanjut dia.

TGB lalu menegaskan dirinya sudah siap menerima segala risiko bila keputusannya itu bertentangan dengan kebijakan partai. Sebagai putra daerah NTB, Zainul Majdi merasa perlu untuk mendukung Jokowi.

"Ya saya harus siaplah. Jadi risiko apapun harus siap dihadapi. Sepanjang keputusan untuk mendukung lahir dari pertimbangan objektif, kemaslahatan kita sebagai bangsa, kepentingan kita untuk menjaga momentum percepatan pembangunan infrastruktur, termasuk yang ada di NTB," ucap TGB Zainul Majdi.

Sebelumnya, sejumlah internal Partai Demokrat mulai melirik nama mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo agar bisa dicalonkan dalam Pilpres 2018. Kedekatan Gatot dengan Ketua Umum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjadi salah satu hal yang turut dipertimbangkan. 

TGB menjelaskan, dukungan ke Jokowi karena mantan gubernur DKI itu memiliki visi untuk melaksanakan pembangunan bersama masyarakat. TGB menegaskan, memimpin Indonesia satu periode tidaklah cukup untuk Jokowi. Ia berkaca pada kepemimpinannya di NTB yang dua periode.

"Kalau hanya memiliki waktu lima tahun dan contoh jauh dari apa yang saya alami sendiri, dari gubernur gitu, pada 2008, 2013 itu baru pondasi-pondasi awal. Kemudian baru pada periode kedua itulah kemudian bisa mengerjakan banyak hal gitu," kata TGB seperti dikutip dari Kumparan.com, Rabu (4/7/2018).

Loading...

"Jadi dari pengalaman saya memimpin NTB, ya saya merasakan seorang pemimpin memang perlu waktu yang cukup untuk mengeksekusi visi-misi, dan pikirannya di dalam program-program yang nyata," lanjut dia.

Maka TGB menegaskan, waktu 10 tahun cukup fair diberikan ke Jokowi. Sehingga hasil-hasil pembangunan yang sudah dilakukan Jokowi bisa semakin dinikmati masyarakat.

"Nah sebaliknya, kalau putus di tengah jalan, saya rasa cost-nya itu akan ditanggung oleh kita semua," ucap politikus Partai Demokrat ini.

"Kita lihat bagaimana Pak Presiden dengan program pembangunan infrastrukturnya dari ujung barat sampai ujung timur yang sebagiannya sudah selesai, sebagiannya baru 50 persen, sebagian lagi baru 25 persen dan seterusnya," jelasnya.

TGB lalu menerangkan, karya nyata yang sudah dilakukan Jokowi. Misalnya, pesantren-pesantren diperhatikan. Bahkan pesantren-pesantren itu dijadikan sentra kekuatan ekonomi Indonesia.

"Kemudian ada, program keuangan mikro berbasis pondok pesantren dan banyak hal yang menurut saya menunjukan bahwa beliau menyadari," papar TGB.

Untuk itu, TGB menilai, dibutuhkan akselerasi, penguatan, hingga pelibatan lebih luas lagi agar pengembangan pesantren lebih maksimal. "Saya pikir itu bisa dilakukan pada saat beliau melaksanakan pemerintahan di periode selanjutnya. Jadi ada kepentingan umat juga," tegasnya.

Loading...
Loading...