Selasa, 03 Juli 2018 16:48 WITA

Uskup Agung Australia Dipenjara atas Kasus Pelecehan Seks Anak

Editor: Suriawati
Uskup Agung Australia Dipenjara atas Kasus Pelecehan Seks Anak
Philip Wilson (EPA)

RAKYATKU.COM - Seorang uskup agung Katolik di Australia dijatuhi hukuman maksimum 12 bulan penjara karena menyembunyikan pelecehan seksual anak pada tahun 1970-an.

Philip Wilson, uskup agung Adelaide, adalah Katolik paling senior di dunia yang dihukum karena kejahatan tersebut. Dia dinyatakan bersalah oleh pengadilan bulan lalu karena menutupi pelecehan oleh seorang pendeta pedofil di New South Wales.

Pada hari Selasa, pengadilan memerintahkan Wilson untuk dinilai sebagai "tahanan rumah" yang berarti dia mungkin tidak akan mendekam di penjara.

Pada bulan Mei, pengadilan menetapkan bahwa dia bersalah karena gagal melaporkan kekejaman rekannya, James Patrick Fletcher terhadap anak-anak altar ke polisi. Saat itu, Wilson justru memecat para korban untuk melindungi reputasi Gereja. Fletcher divonis bersalah atas sembilan tuduhan pelecehan seksual pada tahun 2004, dan meninggal di penjara dua tahun kemudian.

Selama persidangannya, Wilson membantah bahwa dia sudah tahu tentang tindakan Fletcher. Namun salah satu korban Fletcher, Peter Creigh, mengatakan kepada pengadilan bahwa dia telah mendeskripsikan pelecehan itu kepada Wilson secara rinci pada tahun 1976, lima tahun setelah kejadian itu terjadi.

Korban lain, yang tidak dapat disebutkan namanya, memberi kesaksian bahwa Wilson menuduhnya berbohong, dan menyuruhnya melafalkan 10 doa Salam Maria sebagai hukuman.

Menanggapi hukuman Wilson, para korban pelecehan mengatakan mereka memiliki perasaan campur aduk. Ada yang mengatakan bahwa hukuman itu mungkin terlalu ringan, sementara yang lain menyebut itu sebagai sejarah di Australia.

Pada tahun 2012, Perdana Menteri Julia Gillard membentuk komisi kerajaan, bentuk penyelidikan publik tertinggi di negara itu, untuk mencari respon kelembagaan terhadap pelecehan seksual anak.

Pada bulan Desember tahun lalu, komisi tersebut mempublikasikan laporan akhirnya, bahwa mereka telah menangani 42.000 panggilan dan merujuk lebih dari 2.500 kasus kepada pihak berwenang.

Dikatakan bahwa lembaga termasuk gereja, sekolah dan klub olahraga benar-benar gagal melindungi anak-anak.