Kamis, 28 Juni 2018 16:28 WITA

Partisipasi Pemilih di Makassar Terendah Kedua

Editor: Ibnu Kasir Amahoru
Partisipasi Pemilih di Makassar Terendah Kedua
Soni Sumarsono.

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Pencoblosan Pilkada Serentak 2018 telah usai. KPU Sulsel telah merilis jumlah partisipasi masyarakat yang datang memilih para jagoannya ikut bertarung baik kandidat Pilgub Sulsel maupun calon walikota dan calon bupati. 

Ada tiga daerah dengan jumlah partisipasi masyarakatnya paling rendah yaitu, Bulukumba hanya 60,9 persen kemudian diikuti oleh Kota Makassar 61,6 persen setelah itu Luwu Timur 65,8 persen. 

Sementara tiga daerah dengan jumlah partisipasi masyarakat yang tertinggi yaitu, Kabupaten Pinrang 84,6 persen, kemudian diikuti oleh Kabupaten Sidrap 82,3 persen dan Kota Parepare 80,4 persen. 

Khusus untuk Kota Makassar, apakah partisipasi pemilih cerdas mulai apatis karena hanya diikuti satu paslon, Soni mengaku hal tersebut bisa saja terjadi.

"Kita tidak sampai mengobservasi apakah karena kondisi politik di Makassar sehingga mempengaruhi jumlah partisipasi pemilih rendah. Itu bisa saja menjadi dugaan (Pemilih cerdas mulai apatis)," kata Penjabat Gubernur Sulsel Soni Sumarsono, di kantor Gubernur Sulsel, Kamis (28/6/2018). 

Namun, katanya, kemarin mulai pagi sampai malam dirinya bersama jajaran Forkopimda Sulsel melakukan peninjauan di Sidrap dan Jeneponto. Khusus Kota Makassar, ia melakukan peninjauan dari TPS ke TPS lainnya untuk memastikan Pilkada Serentak berjalan lancar. 

Dari peninjauan tersebut, ia melakukan observasi tentang partisipasi masyarakat, namun sayangnya ia tidak mempertanyakan sampai pemilih cerdas di Makassar yang mulai apatis.

"Kemarin saya keliling saya tanya setiap TPS kenapa partisipasi rendah, mereka jawab ada yang mengikuti acara keluarga seperti liburan sehingga tidak sempat ikut mencoblos," tuturnya. 

Menurutnya, sebelumnya KPU sudah mengimbau masyarakat sebelum mengikuti acara keluarga, rekreasi dan sebagainya, ada baiknya sebelum berangkat pergi mencoblos. 

"Tapi nyatanya banyak yang pergi tidak mencoblos. Kedua ini karena ada beberapa nama yang dobel jadi ada nama yang dobel di DPT. Selain itu ada masyarakat yang sudah pindah tapi masih terdaftar di tempat yang dulu. Sehingga ini mempengaruhi jumlah partisipasi pemilih di Makassar rendah," tutupnya.