Jumat, 22 Juni 2018 09:37 WITA

Sidang Vonis Dijaga 400 Aparat, Aman Abdurrahman Rela Dihukum Mati dengan Syarat Ini

Editor: Abu Asyraf
Sidang Vonis Dijaga 400 Aparat, Aman Abdurrahman Rela Dihukum Mati dengan Syarat Ini
Aman Abdurrahman

RAKYATKU.COM - Pengamanan sidang vonis terhadap terdakwa kasus bom Thamrin, super ketat. Ada 400 orang polisi dan tentara yang ditugaskan berjaga sekitar Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Jumat (22/6/2018).

Personel gabungan sudah berada di lokasi pukul 06.50 WIB di lapangan PN Jakarta Selatan. Apel dipimpin oleh Kapolres Jakarta Selatan Kombes Indra Jafar. "Area harus steril dari barang-barang mencurigakan," ujar Kapolres Jakarta Selatan Kombes Indra Jafar saat memimpin apel.

Dia meminta pengamanan berlapis mulai titik terluar PN Jakarta Selatan yakni gerbang utama. Penjagaan juga diperketat mengingat personel yang diturunkan mencapai sekitar 400 orang. "Pasukan yang ditugaskan juga terus bertambah. Tolong bertugas secara maksimal," kata dia.

Polisi juga menyiagakan sejumlah penembak jitu di beberapa titik. "Ada beberapa titik kita tempatkan (sniper) untuk memantau hal-hal mencurigakan. Jika kita perlu melakukan tindakan tegas, kita siapkan," tambah Indra.

Aman Abdurrahman (46) dituntut hukuman pidana mati oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU). Tidak ada unsur yang meringankan dari terdakwa Aman.

"Menurut kami, tidak ditemukan hal-hal yang meringankan dalam perbuatan terdakwa," ujar Jaksa Mayasari saat membacakan surat tuntutan dalam persidangan di PN Jakarta Selatan, Jumat (18/5/2018).

Malah jaksa menyebutkan, ada enam poin yang memberatkan Aman. Pertama, Aman adalah residivis kasus terorisme. Kedua, Aman patut diduga kuat sebagai penggagas, pembentuk, dan pendiri Jamaah Anshorut Daulah, organisasi yang jelas-jelas menentang Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dianggapnya kafir dan harus diperangi.

Ketiga, Aman dinilai sebagai penganjur, penggerak pengikutnya untuk jihad, amaliyah teror sehingga menimbulkan banyak korban. Khususnya aparat.

Keempat, perbuatan Aman mengakibatkan banyak korban meninggal dan korban luka berat. Kelima, perbuatan Aman telah menghilangkan masa depan seorang anak yang meninggal di tempat kejadian dalam kondisi mengenaskan dengan luka bakar lebih 90 persen, serta lima anak mengalami luka berat yang dalam kondisi luka bakar dan sulit dipulihkan.

Terakhir, pemahaman Aman tentang syirik demokrasi telah dimuat di internet dalam blog yang ternyata dapat diakses secara bebas sehingga dapat memengaruhi banyak orang.

Jaksa menilai, Aman telah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana merencanakan dan/atau menggerakkan orang lain untuk melakukan tindak pidana terorisme. Perbuatan Aman telah melanggar Pasal 14 juncto Pasal 6 Perppu Nomor 1 Tahun 2002 yang telah ditetapkan menjadi UU Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme sebagaimana dakwaan kesatu primer. 

Aman juga dinilai melanggar Pasal 14 juncto Pasal 7 undang-undang yang sama sebagaimana dakwaan kedua primer. Jaksa juga menyebut lima aksi teror yang digerakkan Aman, yakni bom Thamrin, teror bom di Gereja HKBP Oikumene Samarinda, bom bunuh diri di Terminal Kampung Melayu, penyerangan Markas Polda Sumatera Utara, dan penembakan polisi di Bima, Nusa Tenggara Barat. 

Namun, Aman membantah dirinya terlibat dalam lima teror itu. Dalam pleidoinya, Aman mengaku menyuruh orang lain dan murid-muridnya untuk hijrah ke Suriah. Dia tidak pernah menyuruh orang melakukan teror. Aman mempersilakan majelis hakim menjatuhkan hukuman mati terhadap dirinya. 

Dia menerima hukuman mati itu asalkan terkait dengan prinsip dirinya mengafirkan Pemerintah Indonesia dan aparaturnya. Namun, Aman tidak terima dihukum dengan alasan terkait berbagai aksi terorisme di Indonesia. Dia mengaku hanya mengajarkan ilmu tauhid yang diyakininya, mengajarkan murid-muridnya berlepas diri dari sistem demokrasi, dan mendukung sistem khilafah.