Kamis, 21 Juni 2018 04:30 WITA

Ternyata Ini Penyebab Penyiar MSNBC Menangis saat Baca Berita tentang Trump

Editor: Abu Asyraf
Ternyata Ini Penyebab Penyiar MSNBC Menangis saat Baca Berita tentang Trump
Rachel Maddow

RAKYATKU.COM - Presenter MSNBC, Rachel Maddow tiba-tiba tercekat. Dia tak kuasa membaca tuntas berita tentang kebijakan imigrasi Presiden Donald Trump. Anak-anak migran gelap dipisahkan dari orang tuanya dan ditempatkan di lokasi yang mirip kandang.

Dikutip dari Daily Mirror Rabu (20/6/2018), awalnya Rachel Maddow dari MSNBC membacakan berita yang baru masuk dari Associated Press. Dia langsung terkejut ketika melihat bahwa berita tersebut adalah kebijakan imigrasi Trump memisahkan anak-anak migran gelap dari orangtuanya. 

Anak-anak itu ditempatkan di kamp penampungan "usia muda" yang terletak di Combes, Raymondville, dan Brownsville di Texas Selatan. "Wow, ini sangat menakjubkan," kata Maddow sambil tercekat. Dia sempat terdiam sebelum mencoba membacakan keputusan pemisahan migran anak tersebut. 

"Pemerintahan Trump baru saja mengirim bayi dan anak-anak ke Texas Selatan," ujar Maddow sebelum dia kembali terdiam dan terlihat emosional. 

Dia lalu meminta kepada produser untuk menayangkan gambar. Namun, karena tidak ada, dia mencoba membacanya sebelum kembali terdiam. Akhirnya, terbata-bata karena menahan tangis, Maddow memutuskan untuk menyudahi acara program yang dipandunya itu lebih awal. Penyiar berusia 45 tahun asal California itu kemudian meminta maaf atas aksi emosionalnya melalui kicauan di Twitter. 

"Adalah pekerjaan saya untuk membacakannya di televisi. Namun, saya tidak sanggup untuk membacanya. Sekali saya minta maaf," katanya. 

Sebagai gantinya, dia lalu membagikan berita yang seharusnya hendak dibacanya melalui enam kicauan. Dikatakan bahwa AS telah memisahkan anak-anak dari orang tua mereka di perbatasan. Kuasa hukum dan penyedia layanan kesehatan yang mengunjungi tiga tempat penampungan itu berkata bahwa ruang bermain bagi anak pra-sekolah berada dalam kondisi "krisis". 

Washington dilaporkan juga berencana untuk membangun pusat penampungan keempat di Houston yang membuat wali kotanya, Sylvester Turner, angkat bicara.

"Saya tidak ingin ada fasilitas pemisah anak-anak dari orang tua di kota ini. Saya telah mengucapkannya dengan jelas," tegas Turner. 

Sebelumnya pada 7 Mei lalu, Jaksa Agung Jeff Sessions mengumumkan kebijakan "toleransi nol" sebagai tindakan yang lebih keras. Dengan kebijakan itu, siapa saja yang secara ilegal melintasi perbatasan akan ditangkap dengan tuduhan kriminal. Bagi mereka yang datang dengan keluarga, anak-anak akan dipisahkan dari orang tua. 

Dalam lima pekan sejak pengumuman tersebut, ada lebih dari 2.300 anak diambil dari orang tua dan kerabat mereka. Setelah dipisahkan dari orang tua mereka, anak-anak diserahkan ke Pusat Penampungan Pengungsi (ORR) milik Kementerian Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan. 

Anak-anak yang berusia antara satu hingga 18 tahun, ditempatkan di pusat penampungan. Beberapa di antaranya tidur di atas tikar pada lantai beton yang dikelilingi pagar menyerupai kandang.

Berita Terkait