Sabtu, 25 Juni 2016 13:08 WITA

PKNI: Narkoba Rugikan Pengguna, Untungkan Pengedar

Penulis: Al Khoriah Etiek Nugraha
Editor: Sulaiman Abdul Karim
PKNI: Narkoba Rugikan Pengguna, Untungkan Pengedar

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Hari Anti Narkotika Indonesia (HANI) yang diperingati setiap 26 Juni, bukan lagi hanya menjadi kegiatan seremonial dan kampanye terhadap bahaya narkotika. Tetapi juga mengarah pada penanganannya. Baik pada peraturan undang-undang, maupun jaminan bagi mantan pengguna narkotika setelah menjalani hukuman.

Hal itu diungkapkan Sekertaris Persaudaraan Korban Napsa Indonesia (PKNI) Makassar, Syahrul Syamsuddin. Ia mengungkapkan sudah saatnya pemerintah untuk mencari dan mencoba pendekatan baru dalam mengatasi permasalahan narkotika saat ini.

"Kita mendorong pemerintah untuk melibatkan masyarakat sipil, khususnya korban Napza dalam perubahan kebijakan narkotika di Indonesia," ujar Syahrul, Sabtu (25/6/2016).

Menurutnya, regulasi terkait perang terhadap Narkotika, yang tertuang dalam UU No 35 tahun 2009, justru merugikan para korban. Namun, secara tidak langsung menguntungkan bagi pelaku perdagangan gelap narkotika maupun aparat penegak hukum.

"Pertama kebijakan tentang narkotika ini tidak bisa memisahkan antara pengguna dan pelaku perdagangan gelap. Selain itu, juga mengaburkan bahwa pengguna narkotika adalah korban. Konsep seperti ini mengikis hak pengguna untuk mendapatkan jaminan Rahabilitasi," jelasnya.

loading...

Ia berharap pemerintah juga dapat mengajak masyarakat untuk tidak berfikir deskriminatif terhadap korban, atau mantan pengguna Napza. Disamping itu, Kepala Biro Bina Napza dan HIV/AIDS, Sri Endang Sukarsih mengungkapkan bahwa perspektif korban ini harus disadari masyarakat terhadap para pengguna. Bahkan penjualnya sekalipun.

Ia menjelaskan bahwa permasalahan narkotika telah menjadi fenomena gunung es. Sehingga jika hanya berharap pada instansi terkait seperti BNN dan Baddoka untuk menanganinya, maka tidak akan ada habisnya.

"Langkah yang kita lakukan adalah membangun pola penanganan gunung es. Dimana kita berdayakan mantan pengguna sebagai motivator. Jika dinilai mampu, mereka juga akan melakukan rehabilitasi," ujar Sri.
 

Loading...
Loading...