Senin, 18 Juni 2018 10:50 WITA

Ingin Balas Dendam, Ini yang Dilakukan Anas Urbaningrum

Editor: Abu Asyraf
Ingin Balas Dendam, Ini yang Dilakukan Anas Urbaningrum
Anas Urbaningrum

RAKYATKU.COM - Ada kesan tersendiri bagi mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum pada momentum Idulfitri 1439 Hijriah. Dia merasa perlu membalas dendam atas kezaliman yang dia alami selama ini.

Lewat tulisan tangan, Anas Urbaningrum menyampaikan perasaan yang berkecamuk dalam dadanya. Pertama, dia menyampaikan selamat Idulfitri 1439 Hijriah.

"Semoga Ramadan tahun ini menuntun kita menjadi hamba Allah yang lebih baik," tulis Anas.

"Semoga spirit Idulfitri membawa Indonesia bergerak lebih maju, damai, sejahtera, dan diridhai oleh Allah," lanjut Anas.

Anas juga mengunggah kutipan Alquran. "Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat." (QS. Ibrahim: 25)

Pada catatan yang lain, Anas Urbaningrum menulis, "Spirit Idulfitri itu memperbaiki yang zalim menjadi adil. Berani mengoreksi nafsu menghukum menjadi mengadili," tulisnya.

Di balik pesan-pesan yang menduhkan itu, Anas Urbaningrum rupanya masih memendam dendam dan rasa sakit hati. Dia pun punya keinginan untuk membalasnya. Eits, tapi jangan salah. Caranya tidak seperti yang dibayangkan.

Dalam catatan terpisah, Anas mengaku mengambil hikmah dari pesan Khalifah Ali bin Abi Thalib.

"MEMBERI MAAF LEBIH BAIK DARIPADA TERUS MEMELIHARA SAKIT HATI. 
Nasihat Ali bin Abi Thalib, 'Balas dendam terbaik adalah menjadikan dirimu lebih baik.'" tulis Anas yang diunggah di akun Twitternya.

Sebelumnya, Mahkamah Agung memperberat hukuman terhadap Anas Urbaningrum, setelah menolak kasasi yang diajukannya. Anas yang semula dihukum tujuh tahun penjara kini harus mendekam di rumah tahanan selama 14 tahun. 

Selain itu, Anas juga diwajibkan membayar denda sebesar Rp5 miliar subsider satu tahun dan empat bulan kurungan. Krisna menjelaskan, Anas juga diwajibkan membayar uang pengganti sebesar Rp57.592.330.580 kepada negara. Apabila uang pengganti ini dalam waktu satu bulan tidak dilunasi, maka seluruh kekayaannya akan dilelang. Apabila masih juga belum cukup, ia terancam penjara selama empat tahun. 
Majelis hakim yang memutus kasus tersebut terdiri dari Artidjo Alkostar, Krisna Harahap, dan MS Lumme. MA mengabulkan pula permohonan jaksa penuntut umum dari KPK yang meminta agar Anas dijatuhi hukuman tambahan berupa pencabutan hak dipilih dalam menduduki jabatan publik. 

Majelis hakim berkeyakinan bahwa Anas telah melakukan perbuatan sebagaimana diatur dan diancam secara pidana dalam Pasal 12 huruf a Undang-Undang TPPU jo Pasal 64 KUHP, Pasal 3 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, serta Pasal 3 ayat (1) huruf c Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 jo Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003.

Dalam pertimbangannya, MA menolak keberatan Anas yang menyatakan bahwa tindak pidana asal dalam tindak pidana pencucian uang (TPPU) harus dibuktikan terlebih dahulu. Majelis Agung mengacu pada ketentuan Pasal 69 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan TPPU yang menegaskan bahwa tindak pidana asal tidak wajib dibuktikan terlebih dahulu. 

Majelis menilai, pertimbangan pengadilan tingkat pertama dan banding yang menyatakan bahwa hak Anas untuk dipilih dalam jabatan publik tidak perlu dicabut adalah keliru. Sebaliknya, MA justru berpendapat bahwa publik atau masyarakat justru harus dilindungi dari fakta, informasi, persepsi yang salah dari seorang calon pemimpin.

Atas vonis MA tersebut, pada Mei 2018, Anas mengajukan upaya peninjauan kembali (PK). "Intinya perjuangan keadilan PK itu disediakan untuk pencarian keadilan yang tercecer. Saya merasa, berdasarkan fakta-fakta, bukti-bukti yang terungkap di persidangan, putusan yang dijatuhkan kepada saya itu jauh dari keadilan," ujar Anas beberapa waktu lalu.

Menurut Anas, seluruh persidangan yang ia jalani mulai dari tingkat pertama hingga ke Mahkamah Agung tidak ada yang berbasiskan kepada fakta dan bukti yang terungkap di persidangan. Anas merasa dirinya diperlakukan secara tidak adil. 

"Buat saya, ini adalah perjuangan keadilan. Mudah-mudahan kesempatan yang baik ini betul-betul saya diadili, sehingga putusannya nanti putusan yang adil," kata Anas.