Kamis, 14 Juni 2018 01:00 WITA

Santri NU Mundur Gara-gara Gus Yahya, Gerindra: Silakan tetapi Jangan Sebar Hoaks 

Editor: Abu Asyraf
Santri NU Mundur Gara-gara Gus Yahya, Gerindra: Silakan tetapi Jangan Sebar Hoaks 
Nuruzzaman

RAKYATKU.COM - Keputusan mundur Muhammad Nuruzzaman sedikit mengguncang Partai Gerindra. Maklum, alasan mantan wakil sekretaris jenderal DPP itu memojokkan sejumah politikus partai berlambang kepala burung garuda tersebut.

Nuruzzaman mengaku mundur karena tak terima kiainya, Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf, dihina saat menjadi pembicara di Israel. 

Nuruzzaman merasa Wakil Ketua Umum Gerindra Fadli Zon telah menghina melalui cuitannya di Twitter ihwal kehadiran Yahya sebagai pembicara di forum yang diprakarsai American Jewish Committee (AJC) terkait konflik Israel-Palestina. 

"Ya, ini sebagai bentuk respons santri kepada kiainya sebenarnya. Jadi ini santri NU yang merespons ketika ada orang yang menyerang kiainya," ucap Nuruzzaman seperti dikutip dari Kompas.com, Rabu (13/6/2018).

Ia menambahkan, kemarahannya memuncak karena hinaan Fadli kepada Yahya terkait acara di Israel. Menurut Nuruzzaman, ada fakta yang dibelokkan menjadi hal politis terkait kehadiran Yahya dan dihubungkan kepada isu ganti presiden. 

"Bagi santri, penghinaan pada kiai adalah tentang harga diri dan muruah, sesuatu yang Pak Prabowo (Subianto) tidak pernah bisa paham karena Bapak lebih mementingkan hal politis saja," lanjut Nuruzzaman. 

Dihubungi terpisah, anggota Badan Komunikasi DPP Partai Gerindra Andre Rosiade membantah tudingan bahwa Fadli Zon menghina Yahya. Menurutnya, apa yang disampaikan Fadli adalah kritik terhadap Yahya yang merupakan anggota Dewan Pertimbangan Presiden. 

Sebenarnya, ada masalah lain yang menjadi pertimbangan Nuruzzaman keluar dari Gerindra, yakni ketika pertarungan di Pilkada DKI. Ia menilai, Gerindra berkontribusi dalam memproduksi isu SARA sepanjang Pilkada Jakarta berlangsung. 

Masalah lain, sikap Gerindra yang menolak Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) tentang Ormas untuk disahkan menjadi undang-undang. Ia mengatakan, sebagai kader NU, sudah semestinya ia mendukung Perppu tersebut, tetapi ternyata bertentangan dengan sikap partai. 

"Oleh sebab itu, saya sudah berpikir untuk mundur dari Gerindra pada Desember 2017 lalu karena kontribusi dan ketulusan saya berjuang bersama tidak pernah terakomodasi. Sehingga, tinggal mencari momen yang tepat yang sesuai dengan premis awal saya di atas," ujar dia. 

Anggota Badan Komunikasi DPP Partai Gerindra Andre Rosiade membantah jika Fadli dianggap menghina Yahya Staquf. 

"Bang Fadli kan tidak menghina kiai. Yang disampaikan adalah beliau mengkritisi seorang pejabat negara, (anggota) Wantimpres, datang ke suatu negara, penjajah, yang selama ini kita punya kebijakan yang beda," ujar Andre saat dihubungi, Rabu. 

Ia justru menilai janggal sikap Nuruzzaman. Semestinya, kata Andre, jika ingin keluar dari partai, Nuruzzaman cukup mengirimkan surat pengunduran diri ke partai. Sebab, lanjut Andre, itu merupakan mekanisme pengunduran diri secara resmi, bukan malah mengirim surat terbuka yang kemudian disampaikan ke publik. Ia meminta Nuruzzaman tak menyebarkan hoaks bahwa Gerindra memproduksi isu SARA di Pilkada DKI Jakarta. 

"Nuruzzaman kalau mau mengundurkan diri kan silakan, itu hak beliau. Tapi tolong jangan menyebarkan hoaks. Menuduh Partai Gerindra memainkan isu SARA di pilkada DKI itu kan enggak benar," lanjut dia.