Kamis, 14 Juni 2018 10:03 WITA

BRT Terancam Berhenti Beroperasi, Bappeda Berikan 3 Solusi

Editor: Aswad Syam
BRT Terancam Berhenti Beroperasi, Bappeda Berikan 3 Solusi
Salah satu armada BRT yang beroperasi di Makassar.

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Kepala Bappeda Sulsel Jufri Rahman, memberikan solusi untuk mengatasi permasalahan Bus Rapid Transit (BRT) Mamminasata yang terancam berhenti beroperasi, karena kurangnya penumpang sehingga terus merugi.

"Masalahnya cukup kompleks. Selain butuh subsidi, mungkin butuh integrasi antar moda transportasi, dan sosialisasi yang lebih intens," ujar Jufri Rahman.

Khusus untuk pengajuan subsidi, sesuai hasil Konsultasi Regional (Konreg) perhubungan di Manado, pihaknya telah meminta subsidi kepada pemerintah pusat anggaran dari APBN.

"Menurut info kadishub, subsidi dari Balai Pengembangan Transportasi Darat) Wil. XIX Sulselbar sebesar  Rp3.392.501.000 subsidi untuk angkutan Perintis," katanya.

Karena diperintahkan langsung oleh Penjabat Gubernur Sulsel Soni Sumarsono, untuk mengatasi permasalahan BRT Mamminasata tersebut, Bappeda akan mencari tahu selain kurangnya penumpang titik lemahnya juga di mana.

"Saya bersama tim Bappeda sedang mengumpulkan info dan data terkait hal ini untuk menemukan titik lemahnya, sehingga kurang penumpang dan merugi," tuturnya.

Sebelumnya, Bus Rapid Transit (BRT) Mamminasata yang melalui trayek dari Maros, Makassar, Gowa dan Takalar, terancam berhenti beroperasi karena kurangnya daya tarik masyarakat memilih BRT sebagai jasa transportasi.

Dari 30 unit bus  yang diturunkan Perum Damri Makassar sejak 2017, yang mampu bertahan hingga pertengahan 2018 tinggal 15 unit. 15 unit lainnya terpaksa di berhentikan beroperasi, karena Perum Damri Makassar terus merugi.

Setiap unit bus BRT menghabiskan biaya operasional mencapai Rp500 ribu, pemasukan setiap harinya sangat minim dan tidak bisa menutupi pengeluaran untuk biaya operasional saja.

"Kita terus mengalami kerugian setiap harinya, anggaran operasional yang disediakan tidak mencukupi. Karena itu kita harus kurangi 15, yang 15 ini sebagai cadangan jika  misal ada trouble," General Manager Perum Damri Makassar, Ilyas Hariyanto.