Jumat, 01 Juni 2018 16:25 WITA

Bareskrim Hentikan Kasus PSI, Bawaslu: Kami Ditikam dari Depan oleh KPU

Editor: Abu Asyraf
Bareskrim Hentikan Kasus PSI, Bawaslu: Kami Ditikam dari Depan oleh KPU
Sekjen PSI Raja Juli Antoni (kanan) tersenyum setelah kasusnya dihentikan Bareskrim Polri.

RAKYATKU.COM - Ada pernyataan menarik dari anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Rahmat Bagja usai Bareskrim menghentikan kasus iklan Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Dia merasa telah ditikam dari depan oleh KPU RI. Mengapa?

Menurut Bagja, KPU memberikan keterangan berbeda pada saat di Sentra Gakkumdu dan saat diperiksa oleh Bareskrim Polri. 

"Kami mengajukan kasus PSI ke Bareskrim Polri setelah mendengarkan dan menelaah keterangan KPU. Tiba-tiba di penyidikan keterangan KPU berubah berbalik 180 derajat," terang Bagja seperti dikutip dari Kompas.com, Jumat (1/6/2018). 

Bagja mengatakan, Bawaslu seolah-olah ditikam sendiri oleh sesama lembaga penyelenggara Pemilu. "Kami seperti ditikam dari depan. Bukan dari belakang lagi. Ada apa dengan KPU? Kami sangat kecewa dengan KPU. KPU tidak konsisten," lanjut Bagja. 

Sebelumnya, Bareskrim Polri membenarkan pihaknya telah menghentikan kasus dugaan pelanggaran pemilu oleh Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Hal itu setelah Bareskrim mengeluarkan Surat Penghentian Penyidikan. Dengan begitu, maka kasus iklan PSI resmi dihentikan penyidikan perkara pidananya. 

"Ya, sudah dihentikan penyidiknnya," ujar Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri, Brigjen Pol Herry Rudolf Nahak. 

Pada 23 April 2018, PSI memasang iklan alternatif cawapres dan Kabinet Jokowi 2019-2024 di koran Jawa Pos. Tak disangka, iklan itu dipersoalkan oleh Bawaslu. Gara-gara iklan itu, PSI sampai dipolisikan Bawaslu karena dinilai telah melanggar UU Pemilu dan memenuhi unsur tindak pidana pemilu. 

Sekjen PSI, Raja Juli Antoni mengatakan, pemasangan iklan tersebut merupakan bagian dari upaya PSI menjalankan fungsi partai politik, yakni melakukan pendidikan politik kepada masyarakat. Di dalam iklan tersebut, PSI menampilkan 12 foto dan nama cawapres alternatif untuk Jokowi. 

Selain itu, ada juga foto dan nama calon-calon menteri untuk kebinet Jokowi 2019-2024. Di bagian atas iklan itu terdapat tulisan "Ayo ikut berpartisipasi memberi masukan! Kunjungi https://psi.id/jokowi2019 Kami tunggu pendapat dan voting Anda semua".

Selain itu, iklan itu mencantumkan logo PSI dan nomor urut partai tersebut pada Pemilu 2019 mendatang. Logo dan nomor tercantum di pojok kanan atas iklan. Raja menyebut bahwa logo itu ditampilkan untuk memberi tanda bahwa iklan ajakan untuk voting digerakkan oleh lembaga yang jelas, yakni partai politik peserta Pemilu 2019, PSI. 

Namun, Bawaslu menyatakan bahwa ajakan di dalam iklan, foto Jokowi, logo PSI, nomor urut 11, dan foto-foto tokoh yang ditampilkan di iklan tersebut termasuk ke dalam kegiatan kampanye. Padahal kampanye Pemilu 2019 belum dimulai. Bawaslu menyatakan, iklan PSI di media Jawa Pos telah memenuhi ketentuan Pasal 1 Angka 35 UU Pemilu terkait kampanye. 

Di pasal 1 Angka 35 UU Pemilu itu disebutkan bahwa kampanye pemilu adalah kegiatan peserta pemilu atau pihak lain yang ditunjuk oleh peserta pemilu untuk meyakinkan pemilih dengan menawarkan visi, misi program dan atau citra diri peserta pemilu. Berdasarkan pernyataan Bawalsu, pemasangan logo dan nomor urut partai termasuk ke dalam citra diri.

Artinya, partai dinilai sudah melakukan kampanye bila memampang logo dan nomor urut peserta pemilu. Atas dasar itu, Bawaslu melaporkan PSI ke Bareskrim karena dugaan telah melanggar UU Pemilu. Namun Bareskrim menghentikan kasus itu karena tidak memuat unsur pidana.