Sabtu, 26 Mei 2018 15:07 WITA

Kisah Kapolda Sulsel yang Selalu Tepat Waktu Salat Berjemaah di Masjid

Editor: Abu Asyraf
Kisah Kapolda Sulsel yang Selalu Tepat Waktu Salat Berjemaah di Masjid
Kapolda Sulsel Irjen Pol Umar Septono bersahabat dengan anak-anak.

RAKYATKU.COM - Memiliki nama yang sama, Kapolda Sulsel, Irjen Pol Umar Septono berusaha mengikuti jejak Khalifah Umar bin Khattab. Dia mengajak jajarannya untuk mendekat kepada Allah subhanahu wata'ala dengan memberikan teladan.

Salah satu yang menonjol adalah tekad Umar Septono untuk selalu salat fardu berjemaah di masjid, dalam kondisi apapun dan dalam acara apapun. Tak sekadar salat berjemaah, mantan kepala Polda Nusa Tenggara Barat (NTB) ini menjadikan saf pertama sebagai harga mati.

"Kehilangan tempat di saf pertama, saya bisa menyesal satu bulan. Pokoknya saya tidak mau di saf kedua. Saya terus meminta kepada Allah subhanahu wata'ala agar dikuatkan," tutur polisi berusia 55 tahun ini di Mapolda Sulsel, Jumat (25/5/2018).

Sebagai Kapolda, Umar bisa saja selalu mendapat tempat di saf pertama. Pengurus masjid bisa saja menyiapkan tempat untuknya. Namun, dia mengaku tak ingin memanfaatkan jabatannya. Dia ingin mendapatkan saf pertama secara alamiah. Caranya, datang lebih awal ke masjid, bahkan sebelum azan berkumandang.

Di Mapolda Sulsel, ada alarm salat yang berbunyi pada pukul 11.30 Wita. Lewat speaker yang terhubung ke seluruh ruangan, semua personel Polda Sulsel yang beragama Islam diminta menghentikan seluruh kegiatan dan bersiap menunaikan salat zuhur. Begitu pula waktu-waktu salat lainnya.

"Saya sudah duluan di sana (masjid) karena saya harus menjadi teladan bagi mereka (anggota)," tambah mantan wakil kepala Polda Bengkulu itu.

Selalu Bercermin dan Kerap Tampar Pipi Sendiri

Di hadapan sejumlah pengurus MUI Sulsel, Umar Septono juga menceritakan beberapa tips dia menyemangati dirinya untuk terus menegakkan salat berjemaah di awal waktu di masjid.

Awalnya, ketika bertugas sebagai kepala Polda NTB, Umar sempat berkonsultasi kepada Gubernur Tuan Guru Bajang Muhammad Zainul Madji. Dia menanyakan dalil-dalil tentang salat berjemaah. Dia juga belajar secara otodidak lewat berbagai sumber hingga keyakinannya tentang salat berjemaah kian kukuh.

Namun, motivasi itu belum cukup. Lulusan Akpol 1985 itu juga memasang cermin besar di rumahnya. Setiap saat, dia bercermin dan menunjuk-nunjuk dirinya, bermuhasabah. Apa yang sudah dilakukan hari ini sebagai wujud rasa syukur atas nikmat Allah subhanahu wata'ala yang telah dianugerahkan kepada dirinya.

Kadangkala rasa malas datang. Setan menggoda untuk tidak perlu salat berjemaah di masjid. Pria yang semasa kecil menumpang hidup di rumah pamannya di Surabaya itu kerap menampar pipinya sendiri, memukul pahanya, untuk bangkit. Dia melawan godaan setan sambil mengingat nikmat Allah yang tercurah kepada dia selama ini.

Bila belum mempan juga, dia membuka foto dalam smartphone-nya. Ada orang cacat yang tak punya kaki, ada yang hanya punya satu kaki, anggota badannya tidak lengkap, tetap salatnya di masjid. "Kalau sudah melihat foto itu, saya langsung bangkit. Takut sekali saya," katanya.

Sebelum menghadiri sebuah acara, Umar sudah meminta informasi tentang masjid terdekat dan jalan yang aman menuju masjid. Makanya, ketika azan berkumandang atau bahkan sebelum azan berkumandang, dia bisa langsung pergi tanpa hambatan. Maklum, dia menjadikan saf pertama sebagai harga mati.

"Setiap habis salat, saya sujud syukur. Saya bersyukur telah menunaikan kewajiban saat itu, mendapat saf pertama, sekaligus berdoa agar saya dikuatkan untuk melaksanakan ibadah berikutnya dan kebaikan lainnya," tutur alumni Lemhanas 47 tersebut.

Umar mengaku menceritakan pengalamannya tersebut bukan karena riya, melainkan untuk mengajak umat muslim untuk bersama-sama saling menyemangati dan menaati perintah dan larangan Allah subhanahu wata'ala dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Kisah Kapolda Sulsel yang Selalu Tepat Waktu Salat Berjemaah di Masjid

Dalil Salat Berjemaah yang Menakutkan

Apa yang membuat Umar Septono takut ketinggalan salat berjemaah? Di antara pendapat ulama, ada pendapat yang mewajibkan lelaki melaksanakan salat fardu berjemaah di masjid dan salatnya tidak sah tanpa berjemaah di mesjid, kecuali ada uzur. 

Dikutip dari Konsultasisyariah.com, Ustaz Kholid Syamhudi Lc, mengatakan, pendapat yang paling rajih atau kuat dalam masalah ini adalah yang menyatakan bahwa salat berjemaah di masjid wajib, namun bukan sebagai syarat sah shalat tersebut.

Di antara dalil-dalil salat berjemaah antara lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa yang mendengar azan lalu tidak mendatanginya, maka tidak ada salat baginya, kecuali bila ada uzur.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah. Hadits ini dinilai shahih oleh Syekh al-Albani dalam Misykat al-Mashabih: 1077 dan Irwa’ al-Ghalil no. 551)

Dalil kedua, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Zat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh aku ingin memerintahkan untuk mengumpulkan kayu bakar lalu terkumpul, kemudian memerintahkan untuk salat dan dikumandangkan azan. Kemudian aku perintah seseorang untuk mengimami salat, lalu aku pergi melihat orang-orang dan membakar rumah-rumah mereka.” (HR. Bukhari)

Pada hadits yang lain, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, "Seorang lelaki buta menjumpai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, sungguh aku tidak memiliki seorang penuntun yang bisa menuntunku berjalan ke mesjid.’ Kemudian ia memohon kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar diberikan keringanan sehingga dia boleh salat di rumahnya, lalu Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam membolehkannya. Ketika orang tersebut berpaling pergi, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggilnya dan berkata, ‘Apakah kamu mendengar azan salat?’ Ia menjawab, ‘Iya.’ Beliau pun menyatakan, ‘Maka datangilah!’”

Para ulama menyebut bahwa orang buta yang dimaksud adalah Abdullah bin Ummi Maktum, salah seorang muazin di zaman Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Inilah yang membuat Umar Septono sangat takut. Orang buta yang tak punya penuntun saja tak diberi toleransi untuk meninggalkan salat berjemaah, apalagi yang diberi indera yang lengkap.