Jumat, 25 Mei 2018 14:40 WITA

OPINI

Antara Jihad dan Terorisme

Editor: Ibnu Kasir Amahoru
Antara Jihad dan Terorisme
Ilustrasi.

Menjelang bulan puasa rentetan bom kembali meledak di beberapa lokasi di Surabaya berlanjut ke beberapa daerah lainnya di Indonesia. Diduga para pelakunya adalah para anggota atau simpatisan ISIS. Bulan suci Ramadan yang seharusnya disambut dengan jiwa yang suci dan bersih dinodai dengan aksi yang keji dan kotor. 

Sungguh kejam. Apalagi kalau perbuatan tersebut dianggap jihad dan dikaitkan dengan keyakinan dalam beragama. Berbeda dengan pelaku kriminal pada umumnya yang masih “sadar” bahwa itu perbuatan tidak baik, pelaku bom bunuh diri (BBD) ini malah menganggap itu perbuatan jihad di jalan Allah yang akan mengantarkan menuju surga. Sungguh sebuah fenomena yang miris.

Ada ungkapan Arab mengatakan bahwa yang merusak dalam tatanan kehidupan bermasyarakat adalah setengah dokter dan setengah ahli dalam agama. Setengah dokter akan membahayakan jiwa manusia. Bayangkan kalau dia dipercaya sebagai dokter tetapi ternyata hanya dokter-dokteran kemudian memberikan obat atau resep maka tentu bisa membahayakan manusia. 

Sedangkan, bagi yang setengah ahli dalam agama tentu kerusakannya lebih besar. Tentu bisa dibayangkan kerusakan kalau seseorang yang ditokohkan dalam agama dan berfatwa atas ilmu yang setengah-setengah yang dimilikinya. Maka terjadilah yang telah terjadi. BBD di mana-mana atas nama jihad.

Jihad dalam Islam

Jihad artinya mencurahkan segala kemampuan untuk melawan musuh. Jihad ada tiga macam yakni jihad melawan musuh yang nyata (perang), jihad melawan setan, dan jihad melawan hawa nafsu. Semua itu terangkum dalam Alquran surat Al-Haj ayat 78. Jihad yang berada di koridor syariat punya syarat-syarat yang harus dipenuhi, semuanya perlu rincian yang mendalam dari ulama yang ahli, tentunya bukan “ulama setengah ahli”.

Hudzaifah radhiyallahu anhuma bertanya kepada Abu Musa Al-Asy’ary radhiyallahu anhu, “Bagaimana pendapatmu andaikata seorang lelaki keluar membawa pedangnya dengan mengharap wajah Allah, kemudian dia berperang dan terbunuh. Apakah dia masuk surga?”Abu Musa radhiyallahu anhu menjawab, “Iya.”Huzdaifah berkata, “Tidak! Tetapi kalau dia keluar membawa pedangnya dengan mengharap wajah Allah, kemudian dia mencocoki perintah Allah lalu terbunuh, dia akan masuk surga.” 

Kondisi ini adalah kondisi di peperangan tetap saja dia tidak dikatakan berjihad kalau belum mencocoki perintah Allah, apatah lagi dengan mereka yang melakukan aksi BBD bukan dalam peperangan, kemudian mereka menyerang orang di luar Islam dalam keadaan aman (tanpa perang) bahkan mereka di tempat ibadah mereka, menyerang aparat pemerintah, melibatkan wanita dan anak kecil, dan begitu banyak lagi perbuatan yang apabila dinalar oleh orang “waras” tidak akan bisa dimaklumi. 

Terorisme

Terorisme dalam KBBI diartikan sebagai tindakan atau upaya dengan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai tujuan (terutama tujuan politik). Istilah ini sebenarnya tidak dikenal dalam Islam tetapi belakangan media dari Barat cenderung memberikan penamaan ini jika yang melakukan aksi adalah dari orang Islam, ada pun kalau pelakunya berasal dari orang luar Islam maka dianggap sebagai pelaku kriminal biasa, tidak peduli seberapa banyak korban yang jatuh.

Apa pun istilah dan alasannya perbuatan oleh segelintir orang dari yang mengaku muslim adalah tetap perbuatan jelek dan biadab. Tidak bisa dibenarkan sama sekali.

Syubhat Mereka

Syubhat atau kerancuan yang mereka memang tidak sembarangan. Sangat memikat bagi para calon anggota yang siap “beraksi” karena imingan surga dan kenikmatan akhirat. Bagaimana tidak, perkataaan mereka adalah perkataan Allah dan Rasul-Nya tetapi sangat jauh dari pemahaman yang benar. Mereka belum ada di masa Rasulullah tetapi sudah disinyalir oleh beliau. 

“Sesungguhnya kalau kalian melihat mereka salat maka kalian akan meremehkan salat kalian, kalau kalian melihat mereka berpuasa maka kalian akan meremehkan puasa kalian. Bersamaan dengan itu mereka telah keluar dari agama sebagaimana anak panah keluar dari busurnya.” (HR Muslim). 

Mereka dikatakan oleh Nabi sebagai orang-orang yang taat beribadah, melaksanakan sunnah, tetapi bersamaan dengan itu dicelah oleh beliau karena mereka ekstrim dalam memahami agama. Tidak heran jika sebagian besar mereka terlihat melaksanakan sunnah seperti cadar bagi wanita, memelihara jenggot, serta sunnah-sunnah lainnya. Akan tetapi, mereka tetap dijuluki oleh Nabi sebagai anjing-anjing penghuni neraka, sebaik-baik makhluk yang jika mati di tangan kita, dan kita sebaik-baik makhluk jika mati di tangan mereka.

Saatnya kita sebagai bangsa yang besar memberi perhatian yang besar terhadap pendidikan anak dan generasi masa depan bangsa.

(Penulis: Dwi Ardian)