Kamis, 24 Mei 2018 16:30 WITA

Polisi Akui Densus 88 Kendurkan Pengawasan terhadap Bomber Surabaya

Editor: Ibnu Kasir Amahoru
Polisi Akui Densus 88 Kendurkan Pengawasan terhadap Bomber Surabaya
Ilustrasi.

RAKYATKU.COM - Polisi mengakui aksi teror bom di tiga gereja di Surabaya terjadi karena Densus 88 Antiteror mengendurkan pengawasan terhadap jaringan Dita Oepriarto cs. 

Hal tersebut dijelaskan Kadiv Humas Polri, Irjen Setyo Wasisto ketika ditanyai apakah bom yang digunakan untuk menyerang gereja adalah buatan Dita sendiri atau orang lain.

"Hasil sementara yang buat adalah yang bersangkutan sendiri, Dita. Tapi mereka kan memang setiap minggu... menurut anaknya Anton (terduga teroris Rusun Wonocolo Anton Ferdiyanto), mereka ada pengajian. Di pengajian itu disampaikan film-film tentang kekerasan, film-film manual tentang pembuatan bom," kata Setyo.

"Nah memang sekitar 3 bulan terakhir sebelum kejadian kan, dari Densus pengawasannya agak dikendurkan," sambung Setyo, dilansir laman Detikcom, Kamis (24/5/2018).

loading...

Setyo menuturkan alasan Densus mengendurkan pengawasan terhadap pergerakan keluarga Dita karena melihat keluarga tersebut sudah bersosialisasi dengan baik dengan lingkungan tempat tinggal mereka.

"Karena melihat yang bersangkutan sudah bersosialisasi dengan masyarakat, dengan baik. Kelihatannya ini dimanfaatkan oleh mereka untuk membuat bom itu sendiri. Saat Densus mengendurkan pengawasannya, mereka memanfaatkan untuk membuat bom," tutur Setyo.

Setyo menerangkan sehari-hari kegiatan yang dilakukan di kediaman Dita adalah meracik produk kesehatan herbal. "Karena dia sendiri kan membuat herbal-herbal itu. Jadi orang nggak curiga gitu kalau dia sedang meracik," imbuh Setyo.

Loading...
Loading...