Kamis, 24 Mei 2018 02:35 WITA

Layani Warga Pulau, Perahu MembacaKu Berlayar 24 Jam di Bulan Ramadan

Editor: Abu Asyraf
Layani Warga Pulau, Perahu MembacaKu Berlayar 24 Jam di Bulan Ramadan
Salah seorang Relawan Pustaka berinteraksi dengan anak-anak pulau.

RAKYATKU.COM - Selasa pagi (22/5/2018) di Nusa Pustaka (perpustakaan dan museum bahari) Pambusuang, penggerak literasi dari Tanah Mandar, Muhammad Ridwan Alimuddin, kembali mempersiapkan puluhan judul buku bacaan anak-anak untuk dibawa berlayar. 

Bukan hanya buku, juga mempersiapkan logistik dan perlengkapan pelayaran berupa, GPS serta pelampung. Pukul 08.00 Wita Ridwan bersama relawan dan satu orang nelayan meninggalkan Nusa Pustaka menuju Pantai Gonda, Kecamatan Campalagiang, Kabupaten Polman untuk memulai pelayaran menggunakan Armada Pustaka II, MembacaKu.

Layani Warga Pulau, Perahu MembacaKu Berlayar 24 Jam di Bulan Ramadan

Arah jarum jam tepat pada 09.00 Wita bertolak dari Pantai Gonda menuju Pulau Battoa, Desa Tonyamang Polewali Mandar. Usai mengarungi laut selama kurang lebih tiga jam perahu merapat di dermaga. Pelayaran kali ini berbeda dengan pelayaran-pelayaran sebelumnya. Selain melelahkan, harus menahan lapar dan haus, semata bertujuan menyediakan bahan bacaan bagi warga pulau.

Sore harinya, pria kelahiran Tinambung, pada 23 Desember 1978 ini dibantu empat orang relawan, Ashari Sarmedi, Tajrinai Talib, Nabilah Haruna, dan penulis menurunkan buku, matras untuk menggelar lapak baca di dermaga. Perahu Pustaka tak asing bagi warga Pulau Battoa khususnya anak-anak. Pulau ini yang kerap dikunjungi oleh perahu pustaka.

Tak hanya membaca. Momentum peringatan Hari Penyu Sedunia, Ridwan juga memberikan kesempatan bagi para anak-anak untuk menggambar. Seperti biasanya, di akhir kegiatan peserta selalu diberikan hadiah berupa, krayon, pulpen dan tas usai menjawab kuis. Kali ini, hadiah diberikan berdasarkan pemenang lomba menggambar. Namun, semua anak-anak yang ikut membaca dan menggambar tetap diberikan hadiah berupa pulpen.

Di bawah bendera Armada Pustaka, sejak didirikan tahun 2015 silam Perahu Pustaka telah melakukan pelayaran ke puluhan pulau dan desa nelayan di Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan hingga ke Sulawesi Tenggara.

Bukan hal yang mudah bagi pria yang pernah melayarkan Perahu Sandeq di Prancis ini. Selain harus meninggalkan istrinya, Hadijah Nurun dan dua orang anaknya, Muhammad Nabigh Panritasagara dan Sophia Syafinatunnajah Suregsagara setiap berlayar, ia juga memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya sebagai jurnalis di salah satu media lokal di Sulawesi Barat beberapa tahun silam. 

Semata-mata hanya untuk menyebar “virus” literasi dan membaca bagi anak-anak dan warga yang berada di pulau-pulau kecil, dan terpencil. Menjelang tahun ketiga berliterasi lewat perahu, lahir putri ketiga, Moana Nururrahmasagara.

Layani Warga Pulau, Perahu MembacaKu Berlayar 24 Jam di Bulan Ramadan

Untuk satu pelayaran berdurasi tujuh hari, Perahu Pustaka bisa menghabiskan antara Rp3 juta hingga Rp4 juta, termasuk untuk membayar jasa pelaut Rp100 ribu per hari. Tak hanya lewat laut, saat laut tidak bersahabat dan penuh risiko. Ridwan menggunakan ATV Pustaka untuk menjangkau desa-desa dan kampung pedalaman yang ada di pegunungan.

Menjelang petang, usai menutup sesi baca dan menggambar di Pulau Babbatoa.  Seluruh buku diangkut kembali ke perahu sambil menunggu waktu untuk berbuka puasa. Usai berbuka seadanya dengan kurma, wafer dan air mineral. 

Awalnya Ridwan Alimuddin bersama relawan akan menginap di Pulau Battoa untuk menggelar lapak baca esok paginya di halaman sekolah dasar (SD). Namun, tiba-tiba pria peraih penghargaan Nugra Jasadarma Pustaloka dari Perpustakaan Nasional tersebu, mendapat pesan WhatsApp, ibunya akan dirujuk ke Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo Makassar untuk mendapatkan perawatan medis. 

Akhirnya Perahu Pustaka MembacaKu yang berjenis baqgo tersebut melanjutkan pelayaran menuju Pantai Bahari di Kota Polewali Mandar. 

“Ayo kita siap-siap untuk melanjutkan pelayaran menuju Pantai Bahari, kita makan malam sambil menunggu ibuku yang akan dirujuk dari Rumah Sakit Umum Majene, menuju Makassar,” ujarnya.

Mengandalkan lampu senter, Ashari dan Tajriani Thalib bergantian mengamati rute yang akan dilalui menuju Pantai Bahari yang melintasi jejeran bagang. Setibanya di Pantai Bahari relawan menggelar matras, dan Ridwan Alimuddin membeli makanan serta air mineral untuk makan malam kru Perahu MembacaKu. Usai makan malam, Ridwan menuju jalan Trans Sulawesi, Polman-Makassar menunggu ambulans yang membawa ibunya ke Makassar. 

Ridwan memutuskan untuk melanjutkan pelayaran setelah salat subuh. Kami memilih tidur di atas perahu baqgo usai mengantar dua orang relawan, Tajriani Thalib dan Nabilah yang lebih awal pulang melalui jalur darat pada pukul 01.00 dini hari.  Berhubung Perahu Pustaka II, tidak didesain untuk pelayaran lama untuk membawa perempuan. Soalnya tidak ada tempat untuk ruang pribadi, misalnya tempat buang air atau ganti pakaian. Berbeda dengan Perahu Pustaka Colliq Pujie, yang sudah memiliki lambung besar serta ruangan khusus untuk buang air di bagian buritan.

Usai salat subuh Perahu Pustaka MembacaKu melanjutkan pelayaran kembali ke Pantai Gonda. Sebelum tiba di Pantai Gonda, kru singgah di Pantai Mampie untuk melihat tempat pengembangbiakan Penyu.

Perahu Pustaka II hanya berlayar di Teluk Mandar saja, basecamp perahu ini di Gonda Mangrove Park, yang dikelola oleh salah satu relawan Armada Pustaka Mandar yang juga aktivis lingkungan, Ashari Sarmedi.

Tepat pukul 09.00 Wita, Perahu Pustaka merapat ke Pantai Gonda untuk di parkir. Ridwan Alimuddin bersama Ashari, Puaq Pia dan penulis menurunkan tas yang berisi buku beserta perlengkapan pelayaran untuk selanjutnya dibawa ke Nusa Pustaka Pambusuang.

Target utama penulis buku Mengapa Kita (Belum) Cinta Laut?, untuk menyebar "virus" literasi adalah anak-anak.

Layani Warga Pulau, Perahu MembacaKu Berlayar 24 Jam di Bulan Ramadan

Muhammad Ridwan Alimuddin (baju biru) memberikan hadiah kepada peserta lapak baca di Dermaga Pulau Battoa, Polman. (FOTO: YUSUF WAHIL)
 

Selain lewat laut, darat, Ridwan membangun perpustakaan sekaligus menjadi museum bahari, Nusa Pustaka di Desa Pambusuang yang diresmikan Maret 2016 lalu. Saat ini sudah sekitar 10.000 judul buku, mayoritas hasil donasi. 

Untuk membiayai setiap pelayarannya, tak jarang ia mendapat bantuan dari orang-orang berbaik hati, baik sesama penulis maupun teman-temannya. Selain itu, juga dari hasil penjualan buku karyanya, serta dari honorarium sebagai pembicara dan peneliti.

Setiap kali berlayar, Ridwan memberikan kesempatan kepada pemuda untuk ikut berlayar sebagai relawan. Sebagai pembelajaran mengenal tentang berlayar, mengenal jenis-jenis perahu maupun teknik berlayar. 

Terlahir sebagai orang Mandar dan memiliki cinta terhadap kemaritiman. Saat berlayar, Ridwan selalu mengajarkan dan memperkenalkan baik pengetahuan tentang maritim, jenis-jenis dan peralatan perahu serta berbagi pengalaman kepada para relawan.

Nabila, Relawan yang pertama kalinya berlayar bersama Perahu Pustaka merasa senang dan mendapat pengalaman hidup baru. "Senang sekali dan dapat pengalaman baru," ungkapnya.

Sampai saat ini, Ridwan sudah memiliki tiga Armada Pustka. Perahu pertamanya Pattingalloang (2016) sudah rusak, diambil dari nama Sultan Mahmud Karaeng Pattingalloang, Perdana Menteri Kerajaan Gowa, Perahu kedua, MembacaKu (2017) lahir atas bantuan komunitas ibu-ibu yang duasuh oleh Melly Kiong. Dan Colliq Pujia, perahu ketiga, Colliq Pujie diambil dari nama seorang perempuan penulis naskah La Galigo.

Untuk menyebarkan gemar membaca, Ridwan Alimuddin enggan meminta donasi dari pemerintah. 

*Penulis: Yusuf Wahil (Relawan Perahu Pustaka)

Berita Terkait