Selasa, 22 Mei 2018 17:30 WITA

Kisah Sedih Mahasiswi Berjilbab yang Diserang Mendagri dan Menteri Perempuan

Editor: Abu Asyraf
Kisah Sedih Mahasiswi Berjilbab yang Diserang Mendagri dan Menteri Perempuan
Maryam Pougetoux

RAKYATKU.COM - Jilbab yang sejatinya penutup aurat masih banyak dipahami sebagai alat politik. Kondisi inilah yang dialami Maryam Pougetoux, mahasiswi yang kukuh menunjukkan jati dirinya sebagai muslimah.

Beberapa hari terakhir, Maryam menjadi perbincangan di Prancis setelah tampil dalam wawancara dengan mengenakan hijab. Tak tanggung-tanggung, serangan datang dari Menteri Dalam Negeri Prancis, Gerard Collomb.

Dikutip dari BBC, Gerard mengecam Pougetoux gara-gara hijab yang ia kenakan dengan menyebutnya sebagai provokasi.

Tak hanya Gerard, Menteri Urusan Persamaan, Marlene Schiappa juga ikut bersikap serupa. Dia mengatakan hijab yang dikenakan Pougetoux adalah salah satu bentuk promosi Islam politik.

Pougetoux, dalam wawancara dengan Buzzfeed News, menegaskan bahwa hijab yang ia pakai tak memiliki fungsi politik. "Ini semata-mata karena alasan agama," kata Pougetoux.

Mahasiswi berusia 19 tahun ini mengatakan dirinya tidak menduga hijab yang ia pakai mendapat perhatian para menteri. "Ini seakan-akan seperti menjadi persoalan negara. Menyedihkan ada menteri dalam negeri yang mengeluarkan komentar seperti itu," kata Poutegoux.

Loading...

Selain dikecam dua menteri, Poutegoux juga menerima pesan-pesan kebencian setelah nomor teleponnya diunggah ke media sosial. Organisasi mahasiswa di Prancis mengatakan bahwa Poutgoux adalah korban ujaran kebencian dan korban tindak rasisme dan Islamofobia.

Poutegoux adalah mahasiswi fakultas sastra dan menjabat sebagai presiden organisasi mahasiswa di Universitas Paris-Sorbonne sejak Desember 2017. Cucu salah satu pejuang pembebasan Prancis ini mengatakan dengan menjadi pemimpin organisasi mahasiswa ia punya kesempatan untuk menyuarakan kepentingan mahasiswa.

Pemerintah Prancis melarang pemakaian hijab di sekolah dan di beberapa kantor publik pada 2004, namun pemakaian di lingkungan kampus universitas tetap dibolehkan.

Pada 2011, Prancis menjadi negara pertama di Uni Eropa yang melarang pemakaian cadar di tempat umum. Hijab atau kerudung yang menyisakan seluruh wajah tetap dibolehkan. Berdasarkan aturan ini, perempuan baik warga Prancis maupun warga asing, yang mengenakan cadar di tempat umum bisa dikenai denda.

Mantan Presiden Prancis, Nicolas Sarkozy, yang mengeluarkan peraturan ini mengatakan cadar adalah simbol penindasan terhadap perempuan. Populasi warga Muslim di Prancis sekitar lima juta jiwa, yang terbesar di antara negara-negara Eropa barat. Diperkirakan hanya sekitar 2.000 perempuan muslim yang mengenakan cadar di Prancis.

Loading...
Loading...