Jumat, 18 Mei 2018 18:54 WITA

Teror Mapolda Riau Dirancang dari Gubuk di Tengah Kebun Sawit

Editor: Aswad Syam
Teror Mapolda Riau Dirancang dari Gubuk di Tengah Kebun Sawit
Gubuk di tengah kebun sawit, yang diduga menjadi lokasi pelaku merancang penyerangan ke Mapolda Riau.

RAKYATKU.COM, PEKANBARU - Sebuah gubuk di tengah kebun sawit, Medang Kampai, Kota Dumai, dipasangi garis polisi. Pakaian bayi masih tampak menggantung di belakang gubuk.

Gubuk beratap seng, berdinding papan. Sebagian ditutup tripleks dan terpal biru. Ada di dinding tripleks dan terpal biru, ada tulisan berwarna putih "Awas Ada Bom, Jangan Dekat". Tulisan tersebut diduga ditulis polisi saat memasangi garis polisi. Itu untuk memperingatkan warga agar tidak mendekat ke gubuk tersebut.

Gubuk itu milik Mursalim alias Pak Ngah (42), pelaku penyerangan Mapolda Riau, di Kota Pekanbaru. Pak Ngah bersama empat temannya, masing-masing Suwardi (28), Adi Sufiyan (26), dan Daud, tewas ditembak polisi. Itu setelah keempatnya menyerang polisi dengan samurai.

Diduga, dari gubuk inilah penyerangan ke Mapolda Riau pada Rabu (16/5/2018) dirancang. Dengan Avanza putih, pelaku penyerangan yang diduga berjumlah 8 orang, naik Avanza menabrak pintu Mapolda Riau. Setelah itu, Pak Ngah, Suwardi, Adi Sufiyan dan Daud, turun dan menyerang petugas dengan samurai. Keempatnya dilumpuhkan dengan tembakan.

Sementara yang lainnya di atas Avanza putih. Melihat temannya ditembak mati, orang di atas Avanza putih itu melajukan mobilnya dan menabrak Ipda Auzhar hingga meninggal.

Strategi penyerangan itu, dirancang dari gubuk di tengah kebun kelapa sawit di kawasan Dumai, Riau ini. Di sini, sering dipakai berkumpul serta latihan fisik anggota kelompok terduga teroris. Informasi yang dihimpun dari potretnews, lokasi ini menjadi tempat latihan fisik bagi anggota terduga jaringan teroris di Dumai.

Kepada warga sekitar Pak Ngah mengaku menggunakan lokasi bersangkutan untuk berlatih silat. Seorang pria yang mengaku pernah ikut kelompok Pak Ngah, bernama NZ, mengaku sempat berada di lokasi tersebut.

Kelompok tersebut sering melakukan pertemuan dan beribadah di situ. Ada dua orang yang sering menjadi imam atau pemimpin dalam ibadah yakni Suwardi dan Pak Ngah. Kedua orang tersebut tewas ditembak ketika menyerang Polda Riau, Rabu.

"Biasanya ada delapan orang melakukan ibadah di sana, yang jadi imam Pak Ngah atau Suwandi," terang NZ kepada tim Densus 88 Antiteror Polri yang melihat kondisi terkini di gubuk itu, Kamis (17/5/2018) kemarin.

Menurut NZ, kumpul-kumpul berlangsung setiap Jumat. Selain kumpul-kumpul juga dilakukan latihan fisik. Tim Densus 88 Antiteror memeriksa kondisi terkini di sekitar gubuk yang berada di Jalan Santri Assakinah itu.

Polisi sudah memasang garis polisi. Kapolres Dumai, AKBP Restika PN tampak ikut mendatangi lokasi bersama sejumlah personel Polres Dumai.