Kamis, 17 Mei 2018 11:20 WITA

Ancam Batalkan Pertemuan, Korut: Kami Serahkan Nuklir Jika Amerika Melakukan Hal Sama

Editor: Aswad Syam
Ancam Batalkan Pertemuan, Korut: Kami Serahkan Nuklir Jika Amerika Melakukan Hal Sama
Kim Jong-un dan Donald Trump.

RAKYATKU.COM, PYONGYANG - Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un mengatakan, negaranya akan menyerahkan senjata nuklirnya, jika Amerika melakukan hal yang sama. 

Pertemuan antara Kim Jong-un dan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump renana digelar 12 Juni mendatang. Namun, pertemuan bersejarah itu tampaknya belum jelas, setelah pada Rabu, kantor berita Korea Utara KCNA mengeluarkan tawaran itu. 

Presiden Trump tampak tenang tentang kemungkinan pembicaraan yang gagal, saat ditanyai oleh wartawan Rabu. Dia mengatakan, pihaknya akan melihat apa yang terjadi. "Kami belum diberitahu sama sekali," ujar Trump. 

Pemimpin Korea Utara Kim membatalkan rencana pertemuan dengan presiden Korea Selatan, Moon Jae-In, pada pemberitahuan singkat pada hari Senin, di tengah kekhawatiran negaranya akan diserang. 

Dia mengklaim, latihan militer yang akan datang antara Korea Selatan dan sekutunya AS, sebenarnya merupakan latihan untuk pendudukan skala penuh Korea Utara. 

Pejabat Departemen Luar Negeri mengatakan, mereka berencana atas dasar bahwa KTT akan berlangsung di Singapura bulan depan. Cendekiawan politik AS Sean King menyebut, ultimatum "playbook klasik Korea Utara Rabu" di tengah prediksi luas bahwa KTT akan berakhir dengan jalan buntu. 

Sementara itu, ada drama lebih lanjut untuk Trump, ketika Senat AS setuju dengan Komite Intelijen DPR, bahwa Rusia ikut campur dalam pemilihan presiden 2016. 

Wakil ketua panel Senator Mark R Warner mengatakan, stafnya menyimpulkan, bahwa kesimpulan [komunitas intelijen] akurat dan tepat sasaran. 

"Upaya Rusia itu ekstensif, canggih, dan diperintahkan oleh Presiden Putin sendiri, untuk tujuan membantu Donald Trump dan melukai Hillary Clinton," ujarnya.

Donald Trump membantah keterlibatan langsung atau pengetahuan atas campur tangan Rusia, dengan pengacara khusus Robert Mueller, saat ini sedang menyelidiki klaim yang sama.